Latest Entries »

Assalamu’alaikum. Warohmatullahi wabarokatuh.

Sebelumnya saya sangat mengapresiasi adanya buku BERSIKAP ADIL KEPADA WAHABI karya penulis Ustadz AM Waskito yang berisi bantahan terhadap buku SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI karangan Syaikh Idahram yang menurut penulis Ustadz AM Waskito ini lebih tepat disebut buku provokasi dan propaganda anti wahabi. Di situ disebutkan Dustur Ilahi mengenai keutamaan berbuat adil kepada siapapun walau terhadap kaum yang kita benci sekalipun. Di sini saya sangat menghargai upaya penulis untuk berbuat adil. Karena saya mengetahui, sebenarnya penulis pun juga pernah menerbitkan buku yang berupa kritik terhadap kaum Salafi Wahabi sendiri. Yaitu buku Dakwah Salafi Dakwah Bijak dan Wajah Salafi Ekstrem di Duna Internet : Propaganda Menyebarkan Fitnah dan Permusuhan. Dari latar belakang tersebut, tampaknya penulis tidak diragukan lagi adalah sosok netral yang patut untuk diadikan penengah antar dua kelompok yang bertikai.

Namun, dibalik apresiasi saya, tetap diperlukan kritik dan koreksi terhadap isi buku tersebut karena saya sendiri menemui terdapat beberapa kekurangan dalam isi buku tersebut. Diantaranya sangat vital karena menyelisihi niat sang penulis sendiri untuk berbuat adil. Berikut perincian dari isi buku yang menurut saya keliru tersebut.

 

  1. Generalisasi Makna Sufi dan Kritik Terhadap Ustadz Arifin Ilham

Bila anda dengan susah payah memberi definisi tetap dalam buku anda soal istilah Wahabi, kenapa malah pada saat yang sama anda menggeneralisasi istilah sufi dan menyandangkan gelar pengikut sufikepada semua warga NU secara berlebihan? Pada halaman 156, anda menyatakan, “Kaum Sufi juga kerap menjauhkan ummat dari mencari ilmu, menikah dan bekerja; dengan alasan itu semua mengganggu pendakian makrifat menuju Allah”. Pada halaman selanjutnya anda menisbatkan gelar sufi pada Ustadz Arifin Ilham dan sikap ketidakkonsistenannya terhadap ajaran sufi karena memiliki 6 rumah dan hidup bermewah-mewahan. Saya menangkap upaya stigmatisasi anda terhadap Ustadz Arifin Ilham karena gaya dakwahnya yang sering menggelar jamaah zikir dan kedekatannya dengan Muammar Qadafi yang anda sebut sufi (padahal dari tulisan anda yang saya kutip tadi, sungguh sangat bertolak belakang. Sufi menjauhi dunia, sedangkan Qadafi malah menggerakkan revolusi untuk merebut kekuasaan). Tapi, sudahkah anda sendiri bertabayyun terhadap Ustadz Arifin Ilham bahwa beliau penganut sufi? Anda juga menyebut kaum NU sebagai sufi, padahal orang awam NU kebanyakan menikah, bekerja, berdagang, dan segala aktifitas dunia lainnya, itu jika mengacu kepada tulisan anda yang saya kutip tadi.

 

Jika anda mau membuka wawasan lebih luas lagi, tidak terkungkung dalam kejumudan pikiran yang selama ini mengurung anda, akan saya kutipkan tulisan dari blog pro-syiah https://ahmadsahidin.wordpress.com/2009/03/04/pseudosufisme/. Di sini perlu saya tekankan bahwa tidak ada salahnya kita mendengar dan mengetahui pembelaan diri musuh-musuh kita agar tercapai tujuan utama penulisan buku anda, yaitu berbuat adil walaupun kepada kaum syiah sekalipun. Dalam artikel tersebut, sebenarnya peranan kaum sufi dalam mengguncang dunia sangat banyak. Definisi sufi dalam buku anda yang saya kutip tadi sebenarnya adalah pseudosufisme yang jumud, para dukun mistis dan anti dunia sedangkan sufi sejati telah sangat besar jasanya dalam bidang ilmu pengetahuan di masa lalu. Ini menurut blog yang pro syiah tadi lho, dan saya sendiri saya tegaskan sangat anti terhadap syiah. Cuma sebagai tambahan referensi saja.

Bahkan, menurut klaim penganut sufi, sang pembebas Konstantinopel, yang pribadinya dipuji nabi sebagai sebaik-baik pemimpin juga adalah penganut sufi. http://warkoplalar.blogspot.com/2011/04/daulah-utsmaniyyah.html. Entah benar ataupun tidak, menurut saya soal sufi atau tidak sufi sebenarnya hanya masalah klim-klaiman semata.

Dan perlu diingat, sufi telah berkelompok-kelompok menjadi banyak thariqat, ada thariqat yang memang sudah pasti dinyatakan sesat, misalnya Ahmadiyyah. Jadi saran saya, untuk memenuhi syarat keadilan, seperti halnya anda yang memberi definisi tetap mengenai istilah wahabi dalam buku anda, alangkah bijaknya anda juga memberi definisi tetap pada istilah tasawuf/sufi.  Misalnya, sufi yang anti dunia, wihdatul wujud, suka pakai jimat, wirid-wirid khusus dan semacamnya dinamakan pseudosufisme. Sedangkan sufi yang benar-benar sufi contohnya warga NU dan kalangan tradisionalis lainnya. Jadi tidak ceroboh dalam menggeneralisasi sufi, mencampuradukkan antara sikap anti dunia dengan sikap Ustadz Arifin Ilham yang notabene sufi versi tradisi NU. Jadi anda seakan-akan juga berpropaganda bahwa sufinya Indonesia tidak konsisten dalam menjalankan ajaran sufinya.

 

  1. Menuduh Khilafah Utsmani menyerahkan Libya secara sukarela kepada Italia atas konsekuensi bergabungnya Khilafah dalam Perang Dunia 1.

Di sini anda telah melakukan kesalahan fatal;

–          Libya diduduki Italia melalui perang. Pada tahun 1911, Italia menyatakan perang melawan Khilafah di Libya. Sehingga Khilafah terpaka mundur dari Libya. Jadi bukan karena ketertundukannya terhadap Blok Central.

–          Yang menggerakkan Utsmani terjun dalam kancah PD 1 bukanlah pemerintahan  Khalifah tapi oleh organisasi persatuan pembangunan yang secara de facto mengontrol pemerintahan (Lihat Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah karangan Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi). Sebagaimana diketahui, organisasi persatuan pembangunan yang mendominasi parlemen mencopot Khalifah terkuat Utsmani saat dalam masa-masa senjanya sebagai The Sickman of Europe, Sultan Abdul Hamid. Praktis, Sultan Muhammad yang dibaiat setelahnya hanya sebagai boneka. Kelompok inilah yang mengarahkan Khilafah ke dalam PD 1.

–          Italia memang pada awalnya merupakan anggota blok sentral bersama Jerman dan Austro Hongaria dan secara terbuka menyatakan dukungannya  kepada Blok Sentral, tapi tidak pernah terlibat langsung dalam peperangan. Bahkan, Italia malah mengkhianati sekutunya tersebut dan bergabung dalam blok sekutu.

Demikianlah kritik saya yang sangat singkat ini, demi menjaga niat baik kita semua secara umum dan Ustadz Waskito secara khusus, yaitu berbuat ADIL. Saya tidak mau berpanjang-panjang karena saya sadar, ilmu saya tidak lebih hebat daripada Ustadz Waskito. Wassalamu’alaikum. Warohmatullahi wabarkatuh.

Terdapat pandangan bahwa gambar Masjidil Aqsha yang berkubah emas, yang sering kita lihat di poster-poster itu sebenarnya adalah Qubah As-Shakrah, sedangkan Masjidil Aqsha, kubahnya berwarna hitam. Ini merupakan pendapat yang benar, tapi salah kaprah dalam menempatkannya. Dalam pandangan ini, menyebutkan bahwa yang membangun Qubah Shakrah adalah Khalifah Umar, dan menganggap Qubah As-Shakrah sebagai Masjid. Untuk lebih jelasnya, silahkan ikuti penjelasan di bawah ini. Pendapat ini saya ambil dari pemahaman mayoritas penduduk muslim Palestina.

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil

Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”  (QS. 17-1)

Apa yang dimaksud Masjidil Aqsa dalam ayat tersebut? Apakah saat itu istilah Masjidil Aqsa sudah ada?
– Belum waktu itu yang disebut Masjidil Aqsa dalam Al-Quran ini adalah kompleks tanah suci, bekas tempat berdirinya baitul maqdis atau dalam bahasa yahudi kuil Salomon.
Apakah yang dimaksud Masjidil Haram itu?
– Ka’bah dan kompleks yang mengelilinginya. Saat Rasulullah SAW Isra’, belum dibangun bangunan yang mengelilingi Ka’bah.

= Intinya, istilah Masjid belum dipatenkan pada wktu itu, Masjid bisa berarti tempat ibadah tauhid apapun bentuknya. (kuil Sulaiman disebut Masjid karena tempat sujud/beribadah kepada Allah, kan tatacara Shalat Nabi Sulaiman belum tentu sama seperti kita)

Apa itu Qubah Shakrah?
– Batu tempat pijakan Rasulullah waktu naik Buraq
– Qubah Shakrah terletak di kompleks Masjidil Aqsa juga

= Intinya, Qubah Sakrah Masjidil Aqsa juga.

Tapi apakah Qubah Shakrah itu Masjid??
– Bukan, itu adalah sekedar kubah tempat melindungi Batu Asshakrah
Siapa yang membangun?
– Khalifah Abdul Malik Bin Marwan, bukan Khalifah Umar

Lha terus yang dibangun Khalifah Umar apa?
– Masjid kecil cikal bakal Masjidil Aqsa yang berkubah hitam, lalu dipugar oleh Khalifah Abdul Malik untuk diperluas.

= Intinya,
1.            Masjidil Haram dalam Alquran maknanya adalah ka’bah beserta kompleks yang mengelilinginya.
2.            Masjidil Aqsa dalam Alquran maknanya adalah Kompleks bekas Kuil Sulaiman(Baitul Maqdis), yang didalamnya ada batu Sakrahnya. Saat Isra’, bangunan Masjid belum ada, adapun mengenai hadits kubah biru saya belum menemukannya, tolong dicantumkan sebagai bahan hujjah.
3.            Qubah Shakrah bukan bangunan Masjid untuk sholat.
4.            Kalau kita sholat di pelataran Masjid Aqsa pun, asal tetap dalam kompleks sama saja seperti di dalam Masjid.

 Syahdan, Majelis Ulama yang berjumlah sembilan orang dikirim oleh Sultan Mehmet Celebi I ke Tanah Jawa dipimpin Maulana Malik Ibrahim. Setelah Malik Ibrahim meninggal, Sunan Ampel mengumpulkan kembali para ulama yang terpisah dan membentuk Majelis Ulama generasi kedua. Pada masa Sunan Ampel, didirikan Masjid Agung di Demak sebagai markas besar Majelis Ulama. Saat itu bertepatan dengan invasi Girindhrawardana atas Ibukota Majapahit tahun 1478. Sunan Ampel mulai berpikir untuk mengambil alih kekuasaan Majapahit mengingat umat muslim menerima perlakuan yang baik dari rezim Majapahit. Dengan runtuhnya Majapahit, menyebabkan kekhawatiran tentang keselamatan ummat Islam.

Tapi sebelum terlaksana, Sunan Ampel keburu wafat pada tahun 1481. Pimpinan Majelis Ulama dipegang Raden Paku. Akhirnya dibentuklah pemerintahan Walisongo yang dipimpin Raden Paku tahun 1487. Pusat pemerintahan berada di Giri Kedaton, Gresik.Kedaton yang dikelilingi Benteng Pertahanan. Tentu ada pertanyaan, loh bukankah Sultan pertama Demak itu Raden Patah? Memang benar Sultan Pertama Demak itu Raden Patah, tapi penobatannya dilakukan pada tahun 1503 (hari jadi Kab. Demak), 25 tahun setelah keruntuhan Majapahit. Jadi siapakah yang mengisi kekosongan kepemimpinan? Tidak lain adalah Raden Paku. Adapun kepemimpinan Raden Paku, beliau menggunakan gelar Sunan Giri (Yang Dipertuan dari Gunung) dan ada yang menyebutkan beliau bergelar Prabu Satmata (gelar Dewa Syiwa), Prabu Girinatha (Raja Gunung/gelar syiwa) dan Tetunggul Khalifatul Mukminin (Andalan Khalifah Mukmin). Sedangkan di kalangan rakyat, beliau disebut Wali (dalam bahasa politik Islam artinya gubernur, wakil pemerintah Ottoman di Jawa; bukan Wali mursyid sufi yang kebanyakan disangkakan orang) dan Mufti Tanah Jawi. Dalam memerintah beliau dibantu Majelis Ulama yang berjumlah delapan orang, ditambah Sunan Giri sendiri, akhirnya menjadi sembilan orang. sehingga disebut sebagai Dewan Walisongo (Dewan pemerintahan Wali yang terdiri dari 9 orang).

Lima tahun sebelum wafat, Sunan Giri melihat perlunya Kadipaten Demak berubah menjadi Kesultanan. Akhirnya Sunan Giri menunjuk Raden Patah, Adipati Demak menjadi Sultan Pertama dengan gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah. Sunan Giri menulis Kitab Undang-undang Jayalengkara yang berisi tentang struktur pemerintahan dan Hukum Islam. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa Sultan Demak harus patuh pada keputusan Walisongo yang merupakan wakil Khilafah.

Setelah Sunan Giri wafat, pamor sebagai wakil Ottoman diambil alih Demak. Pada 1512 Armada Demak pimpinan Pati Unus menyerbu Malaka. Akan tetapi gagal. Setelah menjadi Sultan pada 1521, Pati Unus kembali mempersiapkan armada, kali ini dengan berkoalisi dengan Cirebon, Kesultanan Islam di Melayu, Jazirah Al-Mulk, bantuan kapal dari Gowa dan kemungkinan besar bantuan armada dari Ottoman karena ada yang menyebut koalisi ini sebagai Koalisi Besar Umat Islam. Perang sengit kedua di Malaka ini jarang sekali direkam sejarah. Kebanyakan sejarah lebih suka menyebutkan bahwa kematian Pati Unus secara “wajar”. Akan tetapi yang sesungguhnya, Pati Unus Syahid saat penyerbuan tahun 1521 ini. Mungkin saking dahsyatnya pertempuran tersebut, sejarawan sekuler tidak pernah menyebut-nyebut penyerbuan yang kedua ini. Mungkin ada relasinya antara penyerbuan yang kedua ini dengan penaklukan Pasai oleh Portugis tahun 1421, sebagai pembalasan Portugis atas serangan tersebut. Yang akhirnya memunculkan legenda Fatahillah sang Panglima Perang Pasai yang hijrah ke Demak karena negerinya ditaklukkan Portugis. Wallahu a’lam.

Setelah kematian Sultan Trenggono, terjadi perebutan tahta demak. Adiwijaya (Islam Abangan/Sekuler) yang akhirnya memenangkan perang melawan Harya Penangsang (Islam Putihan/fundamentalis) memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang. Hal ini dibaca pimpinan Giri Kedaton saat itu, Sunan Prapen sebagai pembangkangan terhadap Kitab Jayalengkara dan dimaksudkan untuk mengeliminasi pengaruh Walisongo. Akhirnya timbul pemberontakan Bang Wetan (Aliansi Adipati Jawa Timur) yang masih setia pada Walisongo. Sunan Prapen segera mengambil alih kepemimpinan Walisongo dan mulai memfasilitasi dialog antara Bang Wetan dengan Pajang. Akhirnya disepakati pengakuan Bang Wetan atas kekuasaan Adiwijaya. Akan tetapi, kepemimpinan Ummat Islam Tanah Jawa yang tertinggi direstorasi dikembalikan kepada Walisongo yang kini dipimpin Sunan Prapen.

Pada masa Sunan Prapen inilah, pamor sebagai wakil Khalifah Ottoman mencapai puncaknya. Bukan saja di Jawa, seluruh Sultan di wilayah Nusantara harus menerima pengesahan dari Sunan Prapen. Itu berarti posisi Giri Kedaton saat itu sama dengan posisi Syarif Makkah. Hal ini nyaris tidak pernah dipublikasikan dalam sejarah nasional, hanya Kesultanan Aceh saja yang menyatakan diri sebagai vassal Ottoman dan menerima bantuan militer langsung dari Islambul. Padahal kisah pengepungan Giri Kedaton oleh pasukan Girindrawardana yang akhirnya memunculkan legenda keris Kalamunyeng perlu dikaji lebih dalam. Disebutkan, pena (kalam) yang dilempar Sunan Giri berubah menjadi keris yang melayang menyerang prajurit Majapahit. Kisah tidak masuk akal ini sebenarnya adalah sanepan untuk menutupi kejadian yang sebenarnya. Bisa jadi, kisah yang sesungguhnya ialah, karena pengepungan itu, Sunan Giri menulis surat permintaan bantuan dari Ottoman dan kekalahan pasukan Majapahit adalah karena gempuran Angkatan Laut Ottoman mendobrak blokade darat dan laut Majapahit. Disebutkan pula mengenai pasukan tawon yang menyerang pasukan Majapahit hingga lari tunggang langgang kemungkinan adalah adanya berita yang merisaukan mendengung seperti suara tawon yang menyebutkan bahwa blokade laut mereka digempur Angkatan Laut Ottoman, sehingga mereka terpaksa mundur. Wallahu a’lam.

Perkembangan selanjutnya setelah berdirinya Kesultanan Mataram, Giri Kedaton diserang. Setelah Giri Kedaton runtuh, Sultan Agung dan para sultan nusantara lainnya menerima pengesahan gelar Sultan dari Syarif Makkah. Wallahu a’lam.

Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan kritik terhadap Ustadz Hartono Ahmad Jaiz terkait tulisan beliau dalam  eramuslim.com. Di mana tulisan tersebut menurut saya hanya menimbulkan pesimisme ummat dalam rangka menghadapi Perang Salib Global antara Islam vs Barat. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca di http://www.eramuslim.com/syariah/tsaqofah-islam/hartono-ahmad-jaiz-bom-solo-antara-jihad-konspirasi-dan-bid-ah.htm

Kritik :

Seandainya pemikiran seluruh ummat Islam sama seperti pikiran penulis artikel ini, bisa-bisa umat Islam akan apatis terhadap ide kebangkitan Islam. Bagaimana tidak, lha wong ternyata masih banyak orang Islam yang masih mengamalkan bid’ah, masih banyak orang Islam yang teroris, masih banyak orang Islam yang masih mengamalkan syirik,dll. Ternyata pengikut Islam yang hanif cuma sedikit. Dan akhirnya masyarakat akan pesimis terhadap ide kebangkitan Islam, mau bangkit bagaimana lha wong bersatu aja sulit. Tiap-tiap kelompok membangga-banggakan kelompoknya sendiri dan menjelek-jelekkan orang lain. Yang satu dituduh bid’ah, yang lain dituduh wahabbi. Ini sungguh paham yang berbahaya sekali sobat, seakan kebangkitan Islam itu jauuuuuh sekali, nunggu semua orang sepaham dulu, nggak ada lagi khilafiah, trus kapan kondisi “ideal” itu terjadi?

Ada yang menarik dari artikel ini, yang mungkin bukan hal yang penting menurut sebagian orang. Tapi bagi saya pribadi, mungkin bisa jadi ibrah bersama. Kritik ini sekalian usul kepada Bapak Al-Ustadz Harono Ahmad Jaiz. Perhatikan afiliasi artikel ini, yaitu nahimunkar.com (paling bawah). Jadi fokus kegiatan Bapak Hartono ya cuma nahi munkar aja nggak ada amar ma’rufnya. Padahal dalam Al-Quran amar ma’ruf lebih didahulukan daripada nahi munkar. Cuma nglarang ini, nglarang itu, cari-cari kesalahan kelompok lain, ngungkit-ngungkit  kesalahan orang lain, singkatnya orang lain salaaaaaah mlulu. Na’udzubillah. Pernahkah terbetik dalam pemikiran anda wahai Ustadz untuk beramar ma’ruf? Dan kema’rufan yang paling langka untuk ummat Islam saat ini adalah PERSATUAN dan kemunkaran yang paling jelek adalah PERPECAHAN. Jadi ajaklah ummat ini bersatu, dan laranglah untuk berpecah belah. Masalah khilafiah, insya Allah bisa diselesaikan dengan cara musyawarah yang adil dalam satu lembaga yang disetujui seluruh kelompok, partai, dan mahdzab Islam. Insya Allah masalah Khilafiah akan beres, dan tentunya kita bersatu dulu. ^_^

Menanti Shalahuddin Masa Kini

Pada masa itu kondisi kaum muslimin nyaris sama seperti saat ini. Di bawah ancaman Perang Salib, dikuasainya Al-Quds oleh kaum kuffar, kondisi intern ummat yang terpecah belah menjadi negeri-negeri kecil yang saling berperang satu sama lain, dan yang membedakan hanyalah saat itu institusi Jamaah Islamiyyah dibawah pimpinan Khalifah masih eksis. Namun kenyataannya ada atau tidaknya Khalifah sama saja, karena Khalifah saat itu hanyalah berfungsi secara simbolik, kekuasaan riil digenggam oleh penguasa-penguasa lokal yang haus kekuasaan. Waktu itu, Khilafah di Baghdad menjadi wilayah perlindungan (protektorat) Kesultanan Seljuk. Ini terjadi setelah Sultan Seljuk, Tughril Bek berhasil membersihkan pengaruh Bani Buwaih yang menganut syiah di pemerintahan Khilafah yang hampir saja meruntuhkan kekuasaan Ahlu Sunnah di Jazirah Arab karena Bani Buwaih berkolaborasi dengan Khilafah Syiah Fathimiyyah di Mesir untuk menyatukan Mesir-Baghdad. Pada masa pengaruh Bani Buwaih yang dimana saat itu Khalifah hanyalah berfungsi sebagai pemimpin keagamaan semata, sekaligus hanya sebagai simbol penerus kepemimpinan Rasulullah SAW, berhasil direstorasi menjadi lebih baik pada masa Bani Seljuk, namun tetap berada di bawah pengaruh Sultan Seljuk. Sedangkan wilayah-wilayah Islam diluar kontrol Dinasti Seljuk dikuasai kerajaan-kerajaan kecil yang saling bermusuhan. Mereka dininabobokkan dengan kekuasaan dan perang sehingga saat terjadi Perang Salib, banyak wilayah Islam yang jatuh termasuk Al-Quds.
Saat itu hanya segelintir penguasa Islam yang masih menggenggam bara Islam di tangannya. Salah satunya adalah Penguasa Syam Nuruddin. Di saat penguasa lain sibuk berperang demi kekuasaan, Sultan Nuruddin berperang demi cita-cita untuk mempersatukan kembali kekuatan politik ummat Islam di bawah kekuasaan Khilafah Baghdad. Misi utama Nuruddin ialah menumbangkan Khilafah Syiah Fathimiyah di Mesir untuk menyatukan ummat dalam satu kepemimpinan tunggal dan membersihkan Mesir dari ajaran Syiah.
Setelah menduduki Damaskus pada tahun 1154, Nuruddin yang semakin menegaskan kekuasaannya di Timur Tengah memulai konfrontasi militer melawan tentara Salib. Untuk merebut Mesir, Nuruddin menugaskan Panglima Perang Syirkuh dan keponakannya Yusuf bin Najmudin. Kebetulan saat itu Mesir dilanda konflik kekuasaan. Shawar, Wazir Fathimiyah minta bantuan Nuruddin untuk merebut kembali jabatan Wazir dari tangan Dirgham dengan imbalan Mesir tunduk pada Nuruddin. Panglima Syirkuh pun berhasil mengkudeta Dirgham dan mengembalikan Shawar sebagai Wazir Fathimiyah. Akan tetapi Shawar berkhianat dan bersama Khalifah Fathimiyah Al-Adid menghimpun tentara untuk mengusir Syirkuh. Akan tetapi, insiden ini malah memberi legitimasi Syirkuh untuk menginvasi Mesir. Dalam perang ini, Shawar meminta bantuan Raja Al-Quds (Yerussalem) Almaric. Kepergian pasukan Salib dari Al-Quds memberi keleluasaan pada Nurudin untuk memukul wilayah-wilayah Salib. Akhirnya karena tekanan yang begitu hebat, Almaric mengajak Syirkuh berdamai. Syirkuh bersedia kembali ke Syam dengan menerima hukuman denda 60.000 dinar atas pengkhianatan Shawar.
Sultan Nuruddin kembali mengirim Syirkuh ke Mesir setelah mendengar perjanjian rahasia antara Shawar dan Almaric yang berisi kesediaan pemerintah Fathimiyah untuk tunduk kepada Yerussalem asal Yerussalem bersedia mempertahankan Mesir dari ancaman siapapun. Dalam perang ini, pasukan Islam dari Syam sempat merebut Alexandria, akan tetapi Shawar meminta perdamaian. Syirkuh setuju lalu kembali ke Syam dan meninggalkan Mesir yang akhirnya jatuh ke tangan pasukan Salib Yerussalem sesuai perjanjian.
Rupanya Almaric belum puas menundukkan Mesir, pada 1168 dia bersama gabungan kekuatan Salib memprovokasi Nuruddin dengan melancarkan invasi besar-besaran ke Mesir. Khalifah Fathimiyah Al-Adid ketakutan karena kejadian itu di luar perjanjian. Maka ia kemudian meminta bantuan Nuruddin mempertahankan Mesir. Akhirnya sekali lagi Nuruddin mengirim Syirkuh untuk mengusir pasukan Salib dari Mesir. Peperangan dahsyat memperebutkan Mesir akhirnya dimenangkan oleh pasukan Islam. Shawar dihukum mati dan Khalifah Fathimiyah Al-Adid mengangkat Syirkuh sebagai Wazir Fathimiyah. Tugas pokok Syirkuh ialah secara pelan-pelan membersihkan Mesir dari ajaran Syiah dan membuat Mesir tunduk pada Khilafah Abbasiyah di Baghdad.
Syirkuh meninggal tahun 1169, beliau digantikan keponakannya Yusuf bin Najmudin yang lebih dikenal dengan nama SHALAHUDDIN AL-AYYUBI sebagai Wazir. Tugas pertamanya ialah mempertahankan Mesir dari Almaric yang kembali menyerang Mesir tahun 1169. Setelah berhasil mengusir pasukan Salib, akhirnya tahun 1171 Shalahuddin memerintahkan seluruh Khatib Jum’at di Mesir mendoakan Khalifah Abbasiyah di Baghdad Al-Mustanjid Billah menggantikan Khalifah Al-Adid yang sedang jatuh sakit dan akhirnya wafat. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Dinasti Fathimiyah di Mesir. Mulai saat itu, Mesir secara De Jure berada di bawah kekuasaan Khilafah Baghdad. Shalahuddin pun menjadi Penguasa Mesir.
Shalahuddin mulai memusatkan perhatiannya ke Yerussalem. Untuk merebutnya, diperlukan kesatuan komando ummat Islam. Akan tetapi, sosok Nuruddin yang begitu berwibawa membuatnya sungkan bertindak melangkahi Nuruddin. Setelah Nuruddin wafat pada 1174, Shalahuddin mulai menyusun rencana. Kekisruhan politik akibat perebutan kekuasaan antara putra-putra Nuruddin dimanfaatkan Shalahuddin untuk menginvasi Syam. Setelah berhasil, Shalahuddin meminta kepada Khalifah Baghdad agar mengesahkannya sebagai Sultan wilayah Mesir dan Syam.
Setelah memperoleh legitimasi politik dari Khalifah, Shalahuddin mulai menyatukan front guna melancarkan invasi ke wilayah-wilayah Salib. Para Mujahidin dari penjuru negeri memenuhi seruan Jihad Shalahuddin. Shalahuddin menggunakan sarana Maulid Nabi untuk menumbuhkan semangat Jihad ummat Muslim yang sekian lama impotent. Akhirnya pukulan-pukulan telak Pasukan Islam ke jantung Salib berhasil memaksa Raja Yerussalem Baldwin IVmengadakan perjanjian damai dengan Shalahuddin.
Kendati mendapat angin segar, sejatinya perjanjian perdamaian itu menghambat gerak laju Pasukan Islam menuju Al-Quds. Oleh karena itu, Shalahuddin menunggu pihak Salib membuat kesalahan. Pada 1187, pengganti Baldwin Guy de Lusignan melancarkan provokasi menyerang kafilah Islam. Akhirnya pertempuran pun meletus di Hattin. Pasukan Islam berhasil menang mutlak dalam pertempuran dikarenakan pasukan Salib yang menderita kehausan dalam peperangan. Dengan kemenangan di Hattin ini, maka jalan menuju Al-Quds pun terbuka lebar. Akhirnya setelah pengepungan selama kurang lebih 3 bulan, pada tanggal 2 Oktober 1187, Al-Quds (Yerussalem) dapat direbut kembali oleh Pasukan Islam. Seluruh penduduk kristen diampuni dan bahkan dijamin keselamatannya untuk hirah ke wilayah kristen. Pasukan Islam segera memasuki Masjidil Aqsha yang dalam masa pendudukan Salib dialihfungsi menjadi istana kerajaan.
Demikianlah kisah heroik pelaku sejarah Islam di masa lalu. Akan tetapi bukan hal yang mustahil sejarah seperti itu akan terulang kembali mengingat berbagai prakondisi zaman itu dengan sekarang yang hampir mirip. Siapakah yang akan berperan sebagai Nuruddin, Syirkuh dan Shalahuddin di masa kini? Siapakah yang akan menghancurkan dominasi Syiah di Iran seperti Shalahuddin yang mengakhiri Syiah Fathimiyah di Mesir? Siapa pula yang akan menghancurkan Pasukan Salib Amerika dan NATO sampai tak bersisa seperti kehancuran mereka di Palagan Hattin? Siapa pula yang akan yang akan mengumandangkan takbir di seluruh wilayah Al-Quds dan Masjidil Aqsha yang kini berada dalam cengkeraman Rezim Zionis Yahudi Israel dengan nuansa kemenangan seperti peristiwa tahun 1187 lalu? Inilah tugas kita semua, dan tugas kita bukan menunggu tapi merealisasikan.

Jews on Views

Neturei_Karta

Umat yahudi terpecah menjadi sekuler dan ortodox. Yahudi Ortodox meyakini Mesiahlah yang akan membawa mereka kembali ke Palestina dengan damai, mereka mengklaim masih berpegang teguh pada ajaran Taurat Nabi Musa a.s. Mereka tergabung dalam organisasi Naturei Karta, yang aktif menyerukan penolakan terhadap Zionisme, Negara Israel, dan Talmud. Tapi sama seperti saudara mereka Yahudi Sekular, mereka meyakini bahwa Mesiah yang diberitakan Taurat belum muncul.  Hanya menurut mereka, Mesiah itulah yang akan membawa mereka kembali ke Palestina dengan damai, bukan dengan kekerasan seperti yang dilakukan Yahudi Zionis saat ini di Bumi Palestina. Padahal sang Mesiah yang diramalkan Taurat telah muncul 14 abad yang lalu di tanah arab, yaitu Nabi Muhammad s.a.w.

Sedangkan yahudi sekuler meyakini untuk kembali ke Palestina, mereka harus berjuang sendiri. Mereka inilah yang disebut kaum zionis. Ajaran mereka bukan lagi bersumber pada taurat, tapi telah terinveksi virus kepercayaan pagan mesir kuno. Ajaran judaisme yang tercampur dengan paganisme ini disebut ajaran Kabbalah. Kitab suci Taurat disingkirkan, diganti dengan Kitab Setan Talmud. Kitab rasis yang memandang kaum non-yahudi sebagai binatang. Kaum yahudi zionis juga meyakini akan datangnya mesiah, tapi mesiah versi Talmud jelas beda dengan mesiah versi Taurat. Mesiah versi Talmud merupakan mesiah palsu (Al-Masihuddajjal). Karakter Mesiah ini diyakini akan muncul setelah syarat-syaratnya terpenuhi. Syarat itu antara lain: berkumpulnya seluruh bangsa yahudi ke palestina, pembangunan kembali haikal Sulaiman, hadirnya Tabut perjanjian, serta disembelihnya lembu merah. Untuk mewujudkan syarat-syarat ini, mereka mengambil beberapa langkah, :

  1. Mendirikan Negara ilegal Israel di Palestina sebagai wadah berkumpulnya seluruh umat Yahudi.

    Israeli Defense Force, pasukan dajjal

  2. Menguasai Yerusalem dan membangun terowongan bawah tanah Masjidil Aqsa untuk mencari Tabut Perjanjian
  3. Setelah menemukan Tabut Perjanjian, mereka akan merobohkan Masjidil Aqsa dan mendirikan kembali Haikal Sulaiman sebagai pusat pemerintahan Dajjal
  4. Sebelum mendirikan Haikal Sulaiman, mereka akan melakukan rekayasa genetika pada seekor lembu sehingga berwarna merah. Penyembelihan lembu merah merupakan syarat pembangunan Haikal Sulaiman.

Kapankah batas waktu pelaksanaan semua agenda tersebut? Ya, jawabannya ada pada film 2012. Karena menurut kepercayaan Bangsa Maya, tahun 2012 adalah batas antara Tata Dunia Lama menuju Tata Dunia Baru. Mengetahui dengan PeDenya mereka merilis film 2012 tersebut, muncul kemungkinan bahwa mereka telah menemukan Tabut Perjanjian. Tinggal menunggu waktu ke tahun 2012 untuk membangun Haikal Sulaiman yang baru. Dan tentu saja didahului sebuah aksi biadab yaitu penghancuran Masjidil Aqsa, naudzubillah.

Tata Dunia Baru menurut Zionis adalah sebuah tatanan sekuler, liberal, dimana agama sudah tak lagi diperlukan. Berpusat di Israel Raya yang peta provokatifnya tertempel di Gedung Kneset; Parlemen Israel, yahudi akan menguasai dunia dimana kaum non-yahudi akan menjadi budak mereka, dan tentu saja Dajjal sebagai rajanya. Rancangan Tata Dunia Baru ini jelas tertulis pada mata uang satu dolar amerika. Kenapa Amerika? Menurut film Sherlock Holmes, Amerika merupakan sayap Dajjal dan pengikutnya mencapai tujuan. Film itu menggambarkan sosok patung Sphinx yang bertubuh dan berekor singa, berkaki depan lembu, bersayap elang, dan berkepala manusia. Maknanya kemungkinan: bertubuhsinga=England; kaum Dajjalis menggunakan England sebagai batu pijakan mencapai tujuannya. Bersayap elang= Amerika, setelah menemukan daratan Amerika, kaum Dajjalis membuat konspirasi menjadikan Amerika yang sebelumnya jajahan England menjadi negara super power yang malah membuat England sendiri bertekuk lutut. Amerika menjadi markas pusat gerakan zionis.

Spinxversi_sherlockholmes

Berkaki lembu=tuhan palsu ciptaan Samiri saat Nabi Musa a.s. beruzlah. Lembu ini (atau kambing/sejenis) bisa juga berarti baphomet yang dalam organisasi-organisasi rahasia zionisme merupakan salah satu tuhan yang mereka puja selain Lucifer (Iblis), organisasi seperti freemasonry dan kawan-kawan yang selama ini diyakini menyetir seluruh kebijakan Amerika. Sedangkan berkepala manusia mungkin gambaran bangsa yahudi sendiri yang menganggap non-yahudi sebagai binatang, wallahu a’lam.

Bangsa Yahudi merupakan bangsa yang dimurkai, mengapa demikian? Bangsa Yahudi sebelumnya adalah bangsa yang paling dicintai Allah. Ratusan Nabi telah diutus dari rahim bangsa ini. Tapi setiap nabi mereka wafat, mereka kembali ke kesesatan. Kampanye kesesatan ini digawangi para Yahudi pengikut Kabbalisme. Tidak hanya itu, mereka juga kerap membunuh nabi-nabi yang tidak sependapat dengan mereka. Pertarungan antara Yahudi Kabbalisme melawan para Nabi ini  tetap berlangsung sampai Majelis Sahendrin(Kabbalis)memprovokasi Gubernur Romawi di Palestina Pontius Pilatus untuk menyalib Nabi Isa a.s.

Setelah hilangnya Nabi Isa a.s. karena diselamatkan Allah dari penyaliban dan diangkat ke hadirat-Nya, kaum Yahudi Tauhid masih memiliki harapan. Injil Nabi Isa menyebutkan akan ada nabi pamungkas yang bernama Ahmad. Dalam kitab Taurat juga disebutkan, bahwa nabi atau mesiah ini akan diutus di Madinah. Itulah sebabnya di Madinah zaman Rasulullah telah ada suku-suku Yahudi, antar lain Bani Qainuqa, Nadzir dan Quraidhah. Mengapa mereka ada di situ? Tidak lain karena mereka ingin menjemput kenabian. Kaum intelek ini meyakini, kenabian akan diutus pada salah seorang dari mereka, bukan pada orang arab yang waktu itu masih Jahiliyah, bodoh dan tidak berperadaban.

Berpuluh-puluh tahun mereka bermukim di Madinah,dari generasi ke generasi dengan sabar menunggu wahyu kenabian datang kepada salah seorang di antara mereka. Kemungkinan mereka adalah musuh Yahudi Kabbalis karena sepertinya mereka masih berpegang teguh pada hukum Taurat. (Karena Rasulullah s.a.w. selaku Kepala Negara Islam memberikan hak otonomi pada mereka untuk menegakkan hukum sendiri asal hukum itu berasal dari kitab Taurat. Mustahil Rasulullah s.a.w. mengizinkan mereka menggunakan hukum Talmud) Mereka juga bertekad menjemput kenabian untuk memurnikan tauhid yang saat itu telah dirusak kaum kabbal dengan kitab Talmudnya. Seperti yang tampak dalam ucapan mereka “Sudah tiba masa kedatangan nabi kami. Dan kami akan memerangi kalian seperti memerangi ‘Ad dan Iram.” Tapi seperti yang kita tahu, wahyu kenabian ternyata turun kepada orang Arab. Orang-orang intelek ini sebenarnya haqqul yaqin pada Kenabian Muhammad s.a.w. Tapi hanya karena Nabi bukan orang Yahudi, mereka mendustakannya. Seperti tertera dalam firman Allah :

“Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur`an dari Allah yg membenarkan apa yg ada pada mereka padahal sebelum mereka biasa memohon utk mendapat kemenangan atas orang2 kafir namun setelah datang kepada mereka apa yg telah mereka ketahui mereka ingkar kepadanya. mk laknat Allah-lah atas orang2 yg ingkar itu.” Al Baqarah 89

Tercatat hanya sedikit nama Yahudi yang bersedia memeluk Islam, di antaranya sahabat Abdullah bin Salam r.a. Kaum Yahudi memang terkenal akan ke-rasis-annya. Mereka seakan diberi pilihan, bersama agama Allah atau memeranginya sama sekali. Ketika mendengar hadits-hadits tentang Dajjal, sebagian mereka yang memilih menjadi pendusta seperti mendapat berita gembira. Daripada bersama Nabi Ummi dari Arab, mereka lebih memilih kafir dan mengabdi kepada Dajjal. Begitu juga dengan Yahudi Kabal, mereka seolah memiliki referensi baru mengenai kedatangan, sifat – sifat dan kekuatan Mesiah mereka di akhir zaman. Akibat tindakan kejahatan dan aksi separatis mereka di Madinah dan bahkan ada yang malah bersekutu dengan pasukan Ahzab pimpinan Musyrikin Quraisy, tiga suku utama Yahudi di Madinah pun dikenai sanksi sesuai perbuatannya. Mereka adalah Bani Qainuqa, Nadzir dan Quraidhah. Bani Qainuqa dan Nadzir diusir dari Madinah dan membangun pertahanan di Benteng Khaibar. Sementara Bani Quraidza dijatuhi hukuman mati penduduk laki – lakinya akibat hebatnya konspirasi mereka dalam Perang Ahzab melawan Rasulullah s.a.w. Akan tetapi  masih banyak suku Yahudi kecil – kecil di Madinah yang masih tetap setia pada Daulah Islam, meskipun informasi mengenai kelanjutan kehidupan mereka sangat sedikit sekali, apakah akhirnya beriman atau malah ikut bersama kawan – kawan mereka ke Khaibar. Tak lama kemudian benteng terakhir Yahudi di Khaibar pun dihancurkan Tentara Islam. Itulah akhir konspirasi Yahudi di tanah Arab. Dari sini maka asal – usul Naturei Karta pun menjadi tidak jelas, darimana kelompok ini berasal dan benarkah mereka benar – benar menentang zionisme atau hanya sebagai kedok Zionis untuk melakukan infiltrasi lebih dalam pada musuh – musuhnya.

Tapi yang pasti, dendam Yahudi kepada Allah seakan tak lekang oleh waktu. Bahkan mereka yakin akan hadits nabi bahwa mereka akan dikalahkan Tentara Imam Mahdi di akhir zaman. Tapi keyakinan itu tidak membuat mereka taubat, justru merancang manuver-manuver untuk memperlambat kedatangan Imam Mahdi. Sampai gerakan nasional menanam pohon Ghorqod pun mereka canangkan. Dalam hadits, Pohon Ghorqod adalah satu-satunya pohon yang melindungi Yahudi oleh pembantaian Tentara Islam di mana pohon-pohon lain malah menunjukkan tempat persembunyian Yahudi. Kaum ini yakin mereka akan dibantai, tapi mencari cara supaya bagaimana waktu pembantaian itu ditunda. Na’udzubillah.

Jihad fi Sabilillah berarti segala macam bentuk perjuangan dalam rangka menegakkan kalimah Allah, Syariat Islam, membela kemuliaan Islam dan membela kaum muslimin yang tertindas. Bentuk Jihad ada beberapa macam antara lain, berkarya dalam hal pemikiran Islam, dakwah, Islamisasi, Perang (Qital), dan lain sebagainya asalkan diniatkan dengan tujuan seperti tersebut di atas.

Lalu Jihad macam apakah yang bisa kita kontribusikan pada saat sekarang ini? Para pemikir Islam yang mengklaim moderat pasti akan menyebutkan hal-hal apa saja selain berperang, karena ummat Islam sekarang ada dalam masa damai(katanya??). Ummat Islam dilarang melakukan kekerasan karena Islam adalah Agama damai, seluruh peperangan Rasulullah SAW adalah peperangan defensif(masak???), Jihad dengan kekerasan sudah bukan zamannya lagi, cukup dengan dakwah saja, dan aneka pemikiran aneh lainnya.

Apa mereka lupa kali ya? Apakah saat ini Ummat Islam dalam masa damai? Coba lihatlah Palestina (baca:Gaza), Afghanistan, Iraq, Chechnya, Pattani, Morro, Kashmir, dan di Indonesia sendiri terjadi proses pembusukan Islam dengan diperanginya pemuda–pemuda Islam dan ulama-ulama yang lantang menyerukan penegakan syariat Islam oleh Densus 88 dengan fitnah terorisme. Ini nyata Ummat Islam diperangi di mana-mana.

Lantas kenapa orang-orang itu mengatakan bahwa Ummat dalam masa damai? Bahkan Jihad Qital hukumnya fardhu bagi kaum muslimin. Bagi kaum muslimin yang wilayahnya diserang hukumnya fardu ‘ain, dan bagi kaum muslimin yang tinggal di zona aman hukumnya fardhu kifayah. Mereka juga mengatakan bahwa Qital Rasulullah SAW hanyalah Jihad defensif, haram ummat Islam menyerang duluan. Lalu bagaimana dengan perang Khaibar? Penaklukkan kota makkah? Ekspedisi Tabuk? Perang terhadap bani Tsaqif? Coba siapa yang berani mengatakan kalau semua peperangan tersebut adalah peperangan defensif. Lalu bagaimana dengan ekspedisi-ekspedisi militer Rasulullah SAW di sekitar kota madinah yang berhasil menjadikan wilayah-wilayah di sekitarnya tunduk di bawah kekuasaan Negara Islam dan Panji Tauhid? Demi Allah seandainya Rasulullah SAW tidak mengamalkan Jihad ofensif, maka Islam tidak akan berkembang sampai sekarang ini. Bagaimana tidak lha wong belum berkembang saja Islam sudah hancur karena cuma menerapkan strategi bertahan(Jadi ingat istilah “pertahanan yang paling baik adalah menyerang”, dan menariknya hal itu juga dipraktekkan Rasulullah SAW). Rasulullah SAW menyerang untuk bertahan, dan akhirnya Islam berhasil menanamkan hegemoninya di wilayah Hijaz setelah Fathu Makkah. Jazirah Arab yang sebelumnya dipandang sebelah mata karena kejahilan penduduknya, berhasil meningkatkan martabatnya di hadapan dua superpower dunia masa itu, yaitu Romawi dan Persia setelah Islam berkuasa. Dan tak sampai beberapa lama Romawi dan Persia harus merelakan tahtanya sebagai superpower dunia kepada Negara Islam pada saat Khalifah Umar Al-Faruq Amirul mukminin berkuasa. Dan itu semua terjadi berkat amalan Jihad Ofensif. Bayangkan!!!

  1. Pemerintahan Kenabian Muhammad Rasulullah (622 – 632)
  2. Abu Bakar ash-Shiddiq ra (tahun 11-13 H/632-634 M)
  3. ‘Umar bin khaththab ra (tahun 13-23 H/634-644 M)
  4. ‘Utsman bin ‘Affan ra (tahun 23-35 H/644-656 M)
  5. Ali bin Abi Thalib ra (tahun 35-40 H/656-661 M)
  6. Al-Hasan bin Ali ra (tahun 40 H/661 M)
  7. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661-680 M
  8. Yazid I bin Muawiyah, 61-64 H / 680-683 M
  9. Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683-684 M
  10. Marwan I bin al-Hakam, 65-66 H / 684-685 M.
  11. Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685-705 M
  12. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H / 705-715 M
  13. Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H / 715-717 M
  14. Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H / 717-720 M
  15. Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H / 720-724 M
  16. Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H / 724-743 M
  17. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743-744 M
  18. Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M
  19. Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M
  20. Marwan II bin Muhammad (memerintah di Harran, Jazira), 127-133 H / 744-750 M
  21. Abul ‘Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M)
  22. Abu Ja’far al-Mansyur (tahun 137-159 H/754-775 M)
  23. Al-Mahdi (tahun 159-169 H/775-785 M)
  24. Al-Hadi (tahun 169-170 H/785-786 M)
  25. Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H/786-809 M)
  26. Al-Amiin (tahun 194-198 H/809-813 M)
  27. Al-Ma’mun (tahun 198-217 H/813-833 M)
  28. Al-Mu’tashim Billah (tahun 218-228 H/833-842 M)
  29. Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H/842-847 M)
  30. Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M)
  31. Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H/861-862 M)
  32. Al-Musta’in Billah (tahun 248-252 H/862-866 M)
  33. Al-Mu’taz Billah (tahun 252-256 H/866-869 M)
  34. Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H/869-870 M)
  35. Al-Mu’tamad ‘Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M)
  36. Al-Mu’tadla Billah (tahun 279-290 H/892-902 M)
  37. Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H/902-908 M)
  38. Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H/908-932 M)
  39. Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H/932-934 M)
  40. Al-Radli Billah (tahun 323-329 H/934-940 M)
  41. Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M)
  42. Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M)
  43. Al-Muthi’ Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M)
  44. Al-Thai’i Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M)
  45. Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M)
  46. Al-Qa’im Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M)
  47. Al Mu’tadi Biamrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M)
  48. Al Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M)
  49. Al Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M)
  50. Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M)
  51. Al Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160)
  52. Al Mustanjid Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M)
  53. Al Mustadhi’u Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M)
  54. An Naashir Liddiinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M)
  55. Adh Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M)
  56. Al Mustanshir Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M)
  57. Al Mu’tashim Billah ( tahun 640-656 H/1242-1258 M
  58. Al Mustanshir billah II (taun 660-661 H/1261-1262 M)
  59. Al Haakim Biamrillah I ( tahun 661-701 H/1262-1302 M)
  60. Al Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M)
  61. Al Watsiq Billah I (tahun 732-742 H/1334-1354 M)
  62. Al Haakim Biamrillah II (tahun 742-753 H/1343-1354 M)
  63. Al Mu’tadlid Billah I (tahun 753-763 H/1354-1364 M)
  64. Al Mutawakkil ‘Alallah I (tahun 763-785 H/1363-1386 M)
  65. Al Watsir Billah II (tahun 785-788 H/1386-1389 M)
  66. Al Mu’tashim (tahun 788-791 H/1389-1392 M)
  67. Al Mutawakkil ‘Alallah II (tahun 791-808 H/1392-14-9 M)
  68. Al Musta’in Billah (tahun 808-815 H/ 1409-1426 M)
  69. Al Mu’tadlid Billah II (tahun 815-845 H/1416-1446 M)
  70. Al Mustakfi Billah II (tahun 845-854 H/1446-1455 M)
  71. Al Qa’im Biamrillah (tahun 754-859 H/1455-1460 M)
  72. Al Mustanjid Billah (tahun 859-884 H/1460-1485 M)
  73. Al Mutawakkil ‘Alallah (tahun 884-893 H/1485-1494 M)
  74. Al Mutamasik Billah (tahun 893-914 H/1494-1515 M)
  75. Al Mutawakkil ‘Alallah OV (tahun 914-918 H/1515-1517 M)
  76. Salim I (tahun 918-926 H/1517-1520 M)
  77. Sulaiman al-Qanuni (tahun 916-974 H/1520-1566 M)
  78. Salim II (tahun 974-982 H/1566-1574 M)
  79. Murad III (tahun 982-1003 H/1574-1595 M)
  80. Muhammad III (tahun 1003-1012 H/1595-1603 M)
  81. Ahmad I (tahun 1012-1026 H/1603-1617 M)
  82. Musthafa I (tahun 1026-1027 H/1617-1618 M)
  83. ‘Utsman II (tahun 1027-1031 H/1618-1622 M)
  84. Musthafa I (tahun 1031-1032 H/1622-1623 M)
  85. Murad IV (tahun 1032-1049 H/1623-1640 M)
  86. Ibrahim I (tahun 1049-1058 H/1640-1648 M)
  87. Mohammad IV (1058-1099 H/1648-1687 M)
  88. Sulaiman II (tahun 1099-1102 H/1687-1691M)
  89. Ahmad II (tahun 1102-1106 H/1691-1695 M)
  90. Musthafa II (tahun 1106-1115 H/1695-1703 M)
  91. Ahmad II (tahun 1115-1143 H/1703-1730 M)
  92. Mahmud I (tahun 1143-1168/1730-1754 M)
  93. Utsman IlI (tahun 1168-1171 H/1754-1757 M)
  94. Musthafa II (tahun 1171-1187H/1757-1774 M)
  95. Abdul Hamid (tahun 1187-1203 H/1774-1789 M)
  96. Salim III (tahun 1203-1222 H/1789-1807 M)
  97. Musthafa IV (tahun 1222-1223 H/1807-1808 M)
  98. Mahmud II (tahun 1223-1255 H/1808-1839 M)
  99. Abdul Majid I (tahun 1255-1277 H/1839-1861 M)
  100. Abdul ‘Aziz I (tahun 1277-1293 H/1861-1876 M)
  101. Murad V (tahun 1293-1293 H/1876-1876 M)
  102. Abdul Hamid II (tahun 1293-1328 H/1876-1909 M)
  103. Muhammad Risyad V (tahun 1328-1339 H/1909-1918 M)
  104. Muhammad Wahiddin II (tahun 1338-1340 H/1918-1922 M)
  105. Abdul Majid II (tahun 1340-1342 H/1922-1924 M)

Delapan puluh lima persen (85%) penduduk muslim ternyata BELUM CUKUP untuk membuat Indonesia menjadi Negara Islam. Sebenarnya kurang apa sih, 85% lho,,,,

Ada aja orang yang bilang kalo diberlakukan Syariat Islam, Indonesia akan pecah karena wilayah timur KONON mayoritas non-islam. Sebenarnya berapa banyak sih orang non-muslimnya? Bukannya 100%-85%=15% ya? Tuh cuma 15% kan? Mang ngaruh???? Toh kalo mereka ngotot pengen misah kan kita punya mekanisme hukum, apalagi Syariah Islam sudah tegas. Perangi mereka dengan jihad fi sabilillah apa susahnya sih? Toh “cuma” 15% kan? Secara logika kita sudah menang boss, tapi kemenangan jihad bukan hanya ditentukan oleh jumlah, tapi juga kualitas kedekatan kita dengan Allah. Kalo ada alasan lagi bakal ada pertumpahan darah, lha salah siapa? Salah mereka sendiri kan udah tau minoritas masih ngotot aja.. Cuma 15%, kita bisa bilang sama mereka ” Nyadar dirilahh, relakan kami menjalankan perintah agama kami yaitu , dan akan kami hormati akidah kalian, dengan begitu masyarakat yang toleran, plural dan harmonis sejati (masyarakat madani) akan terwujud.”

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.